Translate

Sunday, April 14, 2013

PROMOSI KESEHATAN


PROMOSI KESEHATAN

Health promotion is the proces of enabling people to control over and improve their health (WHO, 1986).

Promosi Kesehatan adalah kombinasi berbagai dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan dan peraturan perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan (Green dan Ottoson, ’98).

Promosi Kesehatan adalah proses pemberdayaan masyarakat agar mampu memelihara dan meningkatkan kesehatannya. (definisi yang selama ini dipakai oleh Pusat Promkes).

Proses pemberdayaan tersebut dilakukan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat; Artinya proses pemberdayaan tersebut dilakukan melalui kelompok-kelompok potensial di masyarakat, bahkan semua komponen masyarakat.

Proses pemberdayaan tersebut dilakukan sesuai sosial budaya setempat, artinya sesuai dengan keadaan, permasalahan dan potensi setempat.

Proses pembelajaran tersebut juga dibarengi dengan upaya mempengaruhi lingkungan, baik lingkungan pisik maupun non pisik, termasuk kebijakan dan peraturan perundangan.

Promosi kesehatan di dunia dikenal sejak tahun 1980-an, tetapi di Indonesia baru dikembangkan sejak tahun 1995, sebagai pengembangan lebih lanjut dari “pendidikan” dan “penyuluhan” kesehatan.

Ruang Lingkup Promosi Kesehatan

Promosi Kesehatan adalah proses pemberdayaan masyarakat agar dapat memelihara dan meningkatkan kesehatannya. (Health promotion is the process of enabling people to control over and improve their health).


Promosi kesehatan mencakup pendidikan kesehatan (health education) yang penekanannya pada perubahan/perbaikan perilaku melalui peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan.

Promosi kesehatan juga mencakup pemasaran sosial (social marketing), yang penekanannya pada pengenalan produk/jasa melalui kampanye.

Promosi kesehatan adalah juga upaya penyuluhan (upaya komunikasi dan informasi) yang tekanannya pada penyebaran informasi.

Promosi kesehatan juga merupakan upaya peningkatan (promotif), yang penekanannya pada upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.

Promosi kesehatan juga mencakup upaya advokasi di bidang kesehatan, yaitu upaya untuk mempengaruhi lingkungan atau pihak lain agar mengembangkan kebijakan yang berwawasan kesehatan (melalui upaya legislasi atau pembuatan peraturan, dukungan suasana dan lain-lain di berbagai bidang/sektor, sesuai keadaan).

Promosi kesehatan adalah juga pengorganisasian masyarakat (community organization), pengembangan masyarakat (comm. Development), penggerakan masyarakat (social mobilization), pemberdayaan masyarakat (comm. Empowerment), dll.
Ruang lingkup Promosi kesehatan bisa lebih luas lagi, sesuai dengan keadaan dan perkembangan.

Dasar Pemikiran/Latar Belakang


  • Kesehatan adalah hak asasi manusia dan merupakn investasi, juga merupakan karunia Tuhan, oleh karenanya perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya. Promosi kesehatan sangat efektif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan tersebut;
  • Faktor perilaku dan lingkungan mempunyai peranan sangat dominan dalam peningkatan kualitas kesehatan, dan merupakan pilar-pilar utama dalam pencapaian Indonesia Sehat 2010. hal-hal tersebut merupakan bidang garapan promosi kesehatan.
  • Masalah perilaku menyangkut kebiasaan, budaya, dan masalah-masalah lain yang tidak mudah diatasi. Untuk itu semua perlu peningkatan kesadaran dan kepedulian masyarakat untuk hidup sehat, perlunya pengembangan kemitraan dan pemberdayaan masyarakat, dan untuk itu diperlukan peningkatan upaya promosi kesehatan.
  • Sementara itu Promosi Kesehatan telah ditetapkan sebagai salah satu program unggulan, sehingga perlu digarap secara sungguh-sungguh dengan dukungan sumber daya yang memadai.
  • Pada dasawarsa sekarang, juga pada masa-masa y.a.d. kita mengalami transisi epidemiologi, transisi demografi, dll, di pihak lain permasalahan juga semakin kompleks dengan berbagai krisis yang belum kunjung reda. Selain itu kita juga sedang dalam era globalisasi dan disentralisasi. Itu semua justru semakin memperkuat perlunya peningkatan upaya promosi kesehatan.
  • Sementara itu Peraturan dan perundangan yang ada memberikan landasan hukum yang cukup kuat terhadap penyelenggaraan promosi kesehatan.


Kerangka Konsep Promosi Kesehatan


  • Visi / Yang diharapkan : berkembangnya perilaku dan gerakan sehat di masyarakat, menuju Indonesia Sehat 2010.
  • Dasar/acuan penyelenggaraan Promosi Kesehatan, yaitu : Paradigma Sehat atau Pembangunan Nasional yang berwawasan Kesehatan;
  • Ruang lingkup Promosi Kesehatan, yaitu : Perilaku proaktif memelihara dan meningkatkan kesehatan (contoh : olahraga/aktivitas fisik yang teratur), mencegah resiko terjadinya penyakit (contoh : tidak merokok atau menjaga kawasan tanpa asap rokok), melindungi diri dari ancaman penyakit (contoh : memakai helm/sabuk pengaman waktu berkendaraan), dan berperan aktif dalam upaya kesehatan (misalnya di Posyandu).
  • Area atau program yang diprioritaskan dalam promosi kesehatan, yaitu : KIA, Gizi, Kesling, Gaya Hidup dan JPKM.
  • Tatanan utama, yang menjadi sasaran promosi kesehatan, yaitu : Rumah tangga (sasaran ibu, bayi dan balita), Sekolah (sasaran : anak sekolah), tempat-kerja (saaran : usia produktif), tempat umum (remaja/anak muda), sarana pelayanan kesehatan (pengunjung).
  • Strategi pokok : Dikenal dengan singkatan ABG, yaitu : Advokasi (upaya untuk mempengaruhi kebijakan), Bina suasana (upaya pembentukan opini publik), dan Gerakan/pemberdayaan masyarakat (upaya untuk menggerakan dan/atau memberdayakan senua komponen masyarakat).
  • Mitra utama : para pembuat kebijakan, lintas sektor, kalangan swasta, media massa, Perguruan Tinggi, dan semua komponen masyarakat : tokoh agama, tokoh masyarakat, LSM, organisasi profesi, artis, dll.


Strategi, Bentuk Kegiatan dan Pesan Utama



Berdasarkan kerangka konsep khususnya strategi pokok tsb (dimuka), kegiatan nyata promosi kesehatan yang perlu dilakukan adalah :
  1. Pemberdayaan masyarakat, yaitu upaya untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian semua komponen masyarakat untuk dapat hidup sehat.
  2. Pengembangan kemitraan, yaitu upaya untuk membangun hubungan para mitra kerja berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling memberikan manfaat.
  3. Upaya advokasi, yaitu upaya untuk mendekati, mendampingi, da mempengaruhi para pembuat kebijakan sacara bijak, sehingga mereka sepakat untuk memberi dukungan terhadap pembangunan kesehatan.
  4. Pembinaan suasana, yaitu kegiatan untuk membuat suasana atau iklim yang mendukung terwujudnya perilaku sehat dengan mengembangkan opini publik yang positif melalui media massa, tokoh masyarakat, “public figur”’ dll.
  5. Pengembangan Sumber Daya Manusia, yaitu kegiatan pendidikan, pelatihan, pertemuan-pertemuan, dll untuk meningkatkan wawasan, kemauan, dan ketrampilan baik petugas kesehatan maupun kelompok-kelompok potensial masyarakat.
  6. Pengembangan iptek, yaitu kegiatan untuk selalu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang promosi, informasi, komunikasi, pemasaran, advokasi, dll yang selalu tumbuh dan berkembang.
  7. Pengembangan media dan sarana, yaitu kegiatan untuk “mempersenjatai” diri dengan penyediaan media dan sarana yang diperlukan untuk mendukung kegiatan promosi kesehatan.
  8. Pengembangan Infra Struktur, yaitu kegiatan penunjang promosi kesehatan : sekretariat, tim promosi, serta berbagai perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan.


Sedangkan Pesan-pesan kesehatan :
  • Temanya adalah : Kesehatan adalah Hak Asasi Manusia, yang perlu dipelihara dan ditinfkatkan kualitasnya, dan Kesehatan adalah investasi, sehingga perlu terus dipupuk dan dikembangkan.
  • Fokus Pesan adalah : Peningkatan ketahanan keluarga dan kepedulian terhadap lingkungan; sedangkan
  • Pesan-pesan Utama adalah : Aktifitas fisik/olahraga teratu, Melaksanakan diet/pengaturan pola makan dengan gizi seimbang, Tidak merokok atau menjaga kawasan tanpa asap rokok, dan mempraktekkan 5 S (Senyum, salam, Sapa dan Santun sebagai perwujudan pribadi yang sehat jasmani, rohani dan sosial).


Penyelenggara Kegiatan


Kegiatan promosi kesehatan diselenggarakan melalui proses : Pengkajian, Perencanaan, Pengerakan pelaksanaan, serta Pemantauan, penilaian dan Pelaporan.

Phase pengkajian atau pemetaan masalah : Proses dimulai dari pengkajian kualitas hidup, masalh kesehatan, masalah perilaku, faktor penyebab, sampai keadaan internal dan external, Output phase pengkajian ini adalah : pemetaan masalah perilaku, penyebabnya, dll.

Informasi Kualitas Kehidupan : diperoleh cukup dengan melihat data sekunder (Strata keluarga), karena informasi ini hanya berfungsi sebagai latar belakang masalh saja. Demikian pula Phase pengkajian atau pemetaan masalah : Proses dimulai dari pengkajian kualitas hidup, masalh kesehatan, masalah perilaku, faktor penyebab, sampai informasi tentang derajat kesehatan juga dapat dilihat dari data sekunder (data penyakit di Puskesmas).

Informasi tentang perilaku sehat : diperoleh dari kunjungan rumah arau di Pos Yandu (dengan menggunakan formulir PHBS; akan diketemukan strata tatanan : I, II, III, dan IV).

Informasi tentang faktor penyebab (pre desposing, enabling dan reenforcing factors) diperoleh melalui survey cepat etnografi (Rapid etnography assesment) yang dilakukan oleh tingkatan kabupaten / kota.

Informasi tentang faktor internal (tenaga, sarana, dana promosi kesehatan) dan external (peraturan, lingkungan di luar unit) diperoleh dari lapangan/tempat.

Phase Perencanaan : Output phase ini adalah rumusan rencana, dan yang terpenting adalah rumusan tujuan (yaitu rumusan peningkatan perilaku yang diinginkan, setelah mengkaji fakta perilaku, faktor-faktor internal dan external), dan rumusan kegiatan untuk melakukan intervensi terhadap faktor penyebab, yang diinventarisir dan disusun dalam kegiatan yang berurutan.

Phase Penggerakan pelaksanaan : Outputnya adalah siapnya kegiatan (pra pelaksanaan : yaitu tenaga, sarana, dll), dan pelaksanaan kegiatan sesuai rencana.

Phase Pemantauan : Fokusnya pada pemantauan pra pelaksanaan dan pada pelaksanaan : apabila ada penyimpangan segera dilakukan perbaikan (koreksi).

Phase penilaian : Fokusnya pada perbaikan rencana y.a.d. : perlu dilihat keseluruhan komponen : rumusan tujuan, jenis kegiatan intervensi, dll.

Phase pelaporan : adalah pelaporan keseluruhan proses dan komponen, termasuk tujuan yang dicapai, kegiatan yang dilakukan, sumber daya yang dipergunakan, dll.

Sentralisasi vs Desentralisasi




Peran Sektor Kesehatan dan Lintas Sektor dalam Promosi Kesehatan




Peran Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota




Peran Sektor Kesehatan dan Lintas Sektor dalam Promosi Kesehatan


  • Perumusan kebijakan teknis promosi kesehatan di wilayahnya.
  • Penyediaan sarana promosi kesehatan sesuai standar.
  • Mengupayakan dana yang memadai untuk promosi kesehatan.
  • Mengembangkan kemitraan dengan berbagai pihak.
  • Mengupayakan pemberdayaan kelompok potensial di masyarakat di bidang kesehatan.
  • Memantau dan mengawasi jalannya kegiatan promosi kesehatan di wilayahnya.
  • Melakukan hal-hal lain sesuai keadaan, masalah dan potensi daerah.



Indikator Keberhasilan


Indikator input :
  1. Adanya organisasi/lembaga khusus promosi kesehatan/PKM;
  2. Pemenuhan standar tenaga profesional (jafung PKM) di kabupaten/kota;
  3. emenuhan standar sarana promosi kesehatan di kabupaten/kota.
Indikator proses :
  1. Adanya kebijakan sektor yang mendukung pengembangan perilaku dan lingkungan sehat (minimal 3 per sektor).
  2. Frekwensi informasi melalui media massa (TV; 5/mg; Radio; 1/hr; koran : 2/mgg).
  3. Jumlah kelompok potensial yang bergerak bidang kesehatan di kabupaten/kota (5 per kecamatan).
Indikator output :
  1. Perorangan : perbaikan prosentase faktor perilaku beresiko (aktivitas fisik, diet/gizi baik dan tidak merokok) : 80%
  2. Prosentase tatanan keluarga sehat : 65 %
  3. Ratio Desa/Posyandu = 1 : 5

No comments:

Post a Comment